Skip to main content

SOLO (SERBA-SERBI KULINER SEKITAR KAMPUS UNS)

Aaaah kalau udah disebutkan empat huruf yang merangkai nama sebuah kota itu, tiba-tiba hati jadi membuncah senang dan antusias. Kota Solo ini memang bukan kota kelahiran atau kota asalku. Tapi kota Solo masuk ke dalam daftar kota favorit di antara beberapa kota di Indonesia yang pernah aku tinggali. Aku memang belum paham Solo sedemikian baiknya ya, tapi at least di kota ini ada kenangan yang tergambar selama kurang lebih 5 tahun saya singgahi.

Banyak hal manis dan pahit yang terjadi di kota ini. Dari awalnya yang aku nggak begitu suka karena harus kuliah di kota yang bukan tempat impian aku. Karena jujur dulu selepas SMA, lebih pengen kuliah di Jogja, ada banyak teman di Jogja sana. Biasa problematika anak SMA banget yang nggak pengen pisah sama temen-temen SMA-nya. Sampai akhirnya, malah jadi betah dan kangen banget sama kota Solo. Sebenernya yang bikin Solo indah itu selain dari suasana kotanya, yang terpenting adalah orang-orang yang menemani kehidupanku di dalam Solo. Dari temen kos, kampus, ehemm (ga usah diperjelaslah ya), teman-teman lainnya, bapak/ibu/mas/mbak penjual dan penjaga warung-warung alias toko-toko yang sering aku datangi. Ohiya makanan-makanannya juga sangat-sangat dirindukan.

Kali ini mau bahas makanan-makanan apa saja yang menurut aku enak, endes surendes. Tapi kayaknya harus dibatasi yang sekitar kampus aja ya. Biasanya kalau yang jauh dari kampus itu aku lebih sering ke kafe gitu, tapi ntar deh aku bikin daftar dulu aja mana-mana yang enak dan siapa tau bisa di-posting di edisi selanjutnya. Well mari kita mulai aja ya, kuliner enak sekitar kampus UNS Kentingan, bagi kamu-kamu yang mau siap-siap kuliah di Solo (khususnya UNS dan ISI, kedua kampus ini bersebelahan ya), atau yang emang lagi butuh inspirasi dan referensi silakan menyimak! Tempat makan di bawah ini selain menurutku enak juga ada yang sering aku datangin juga ya...

1. Ayam Bakar Bu Darmo
Kenapa ini aku taruh di urutan pertama? Because I'm a big fan of Ayam Goreng Penyet Bu Darmo. Jadi Warung Bu Darmo ini punya 3 cabang (hasil kasak-kusuk yang aku lakukan), yaitu di Pasar Panggungrejo, Belakang Kampus FISIP UNS menuju ke ISI, dan di jalanan masuk gerbang ISI. Menu makanan yang terkenal di Bu Darmo ini adalah Ayam Bakar. Tapi sebenernya banyak kok pilihannya: ayam, lele, tempe penyet, dan kakap. Kamu bisa minta itu dibakar atau digoreng, mau dipenyet atau nggak, dan sambalnya bisa mentah atau matang. Makanan favorit ku sih ayam goreng penyet, karna digoreng krenyes kriyuk gitu sama dipenyet pakai sambal mentah yang WOW pedesnya luar biasa. Eh tapi terkadang sambalnya nggak pedas sih, mungkin cabenya kurang kali ya. Pokoknya kalau kamu yang suka pedas, aku saranin buat nyobain makan di sini. Tapi jangan takut buat kamu yang nggak begitu suka pedas, ada pilihan sambal matang yang pedasnya normal. Ohiya, Warung Bu Darmo yang di Pasar Panggungrejo (letaknya di Jl. Surya) ada jasa delivery-nya loh. Lumayan banget kalau lagi males keluar kos ataupun hujan, ada Bapak-Bapak yang biasanya naik motor Beat yang nganterin hihihi. Pokoknya ini makanan yang hampir seminggu sekali aku makan deh, sampai Mbak/Ibu yang jual udah hafal banget sama aku, eh sampai-sampai manggilnya salah nama jadi "Mbak Putri". Ohiya kalau buat harga sebenernya standar kok, standar makanan dekat kampus di Solo. Kalau nggak salah dulu itu nasi ayam harganya Rp 11.000-an.
Ohiya sedikit info, buat kamu yang penasaran Bu Darmo itu yang mana karena sampai ada 3 warung di sekitar UNS. Nih aku kasih tau ya dari hasil korek-korek dan bergaul sama Ibu penjualnya yang di daerah Surya, Jadi Bu Darmo itu Ibu dari Ibu-Ibu yang jual di semua warungnya itu. Dan Ibu Darmo itu udah meninggal. Kalau nggak salah warung pertamanya itu yang ada di dalam ISI, sekarang udah diterusin sama anak-anaknya dan buka cabang.

2. Kharismaku
Nah kalau ini letaknya di seberang gerbang depan UNS. Jadi di sebelah Rumah Makan depan kampus, pokoknya di depan emperan toko gitu. Walaupun terlihat kecil, eiits jangan salah ya rasanya tuh sedaaaap! Makanan yang disediakan itu: nasi goreng, mie kuah/goreng, dan kwetiau kua/goreng dengan berbagai macam variasi isinya. Rasanya tuh nggak kalah sama yang dijual di mall-mall gitu, eh malah lebih enak kok. Buat kamu yang suka makan banyak kayak aku hahaha, bisa minta porsi besar. Gimana dengan harganya? Harganya terjangkau deh. Jadi nggak rugi kalau makan di sini, rasanya enak dan harganya terjangkau (alias muraaah). Tapi cuma satu cobaannya: antriannya panjang hahaha. Biasanya jam-jam padat itu sesudah maghrib. Karena ini bukanya sekitar jam 5 sore, jadi kamu cepet-cepet deh ke sana sebelum maghrib juga nggak apa-apa. Pesan dulu, trus baru deh sholat maghrib karena di dekat situ ada musholla kok. Kalau nggak mau antri panjang juga, kamu bisa dateng jam 8 atau 8.30 malam gitu. Karena biasanya jam segitu udah mulai sepi jadi pesenan bisa cepet disajikan.

3. Bu Cinta
Nah kalau ini nggak begitu terkenal layaknya 2 tempat makan yang udah aku sebutkan di atas. Aku juga menemukan warung ini gara-gara diajak sama Mbak Kosku. Letaknya juga agak sedikit masuk-masuk, dan aku susah ngejelasin di mana letaknya. Kalau nggak salah Bu Cinta ini masuk daerah Surya. Hmmm gimana ya jelasinnya? Soalnya kalau dari kos aku yang di Surya 2 itu gampang banget hahaha. Oke deh aku coba jelaskan. Dari gang Surya 3 yang letaknya di sebelah kanan (kalau dari Jalan Surya Utama), nah nanti ikuti jalan aja, perempatan kedua baru belok kiri. Kayaknya gitu deh ya. kalau nggak salah inget nih hahaha. Makanannya sih makanan rumahan. Bagi yang kangen sama masakan mama/ibu, bolehlah datang ke Bu Cinta. Pada kaget dengan nama warung ini, jadi si Ibu ini punya anak yang namanya Cinta, makanya warungnya dinamakan Bu Cinta. Ibunya baik kok, rasa makanan enak, dan harganya murah cocok buat anak kos. Bagi yang udah pernah ke sini jaman dulu (sebelum direnovasi), nggak kelihatan kalau seperti warung. Dari luar tampak seperti rumah biasa, masuk aja, ambil makanan di dapurnya (kalau mau makan di tempat, tinggal ambil sendiri. Kalau mau bungkus, ngomong sama Ibu/Bapak-nya ya). Nah nanti kalau makan di situ bisa makan di ruang tamu ataupun ruang TV. Nah buat anak kos yang nggak punya TV di kamar (kayak aku gitu), bisa deh numpang nonton sembari makan. Tapi kalau sekarang udah direnovasi, udah nampak kayak warung. Ada etalase di terasnya, yang dulu ruang tamu udah disulap jadi tempat lesehan buat makan. Yang bikin andalan ke warung ini adalah Sabtu-Minggu dan hari libur nasional tuh sering buka. Yeaaaaay!

4. Warung Makan Banyumasan
Kalau warung yang satu ini ada 2 tipe di daerah UNS, yaitu yang emang asli dan tiruannya. Yang asli itu di seberang gerbang belakang UNS, namanya Warung Makan Banyumasan. Makanannya sih khas daerah Banyumas, yaitu pedas dan manis. Sebenernya aku nggak tau masakan Banyumas itu seperti apa. Tapi kata orang ya seperti itu. Di warung situ lauknya dan sayurnya beraneka ragam, banyaaaak banget pilihannya. Eiiits tapi jangan terlena ya, karena harganya lumayan mahal hahaha.
Nah kalau yang tipe kedua itu turunannya hahaha. Ada Warung Bu Was yang letaknya di daerah Ngoresan (harus googling nama daerahnya dulu coba, lupaaa cyiint). Kasak-kusuk yang saya dapatkan dari sumber terpercaya ini ya hahaha. Berasa banget nggak sih aku bisa tau sejarah warung-warung hahaha. Karena biasanya aku sering nanya-nanya gitu ke penjaga warung apalagi kalau yang sering aku datangin. Jadi dulu yang punya Warung Bu Was ini karyawan/tukang masak di Warung Makan Banyumasan. Nah lama-lama si Ibu itu buka warung sendiri. Bu Was juga ada cabangnya loh, kalau dulu ada di gang Halimun, tapi sekarang pindah di sentral fotokopian belakang kampus dekat Kos Shima yang di dekat gerbang belakang. Nah ada satu lagi yang masakannya sama kayak Bu Was gini di daerah Surya, nama warungnya "Warung Bu Sarmi". Orang-orang suka salah nyebutnya makan di "Bu Was Surya", padahal Bu Sarmi atuh yang benar. Si ibu yang di Surya ini juga dulu kerja/masak di Bu was Ngoresan, tapi akhirnya buka cabang sendiri. Aku kasih tau kesimpulan yang selama ini aku kumpulkan ya, ini rahasia aja ya. Semacam rahasia yang diumumkan gitu ya, biar mempermudah kalianlah hahaha. Jadi kalau dari ketiga warung turunan makanan Banyumasan ini, aku lebih milih Bu Was. Kenapa? Biasanya porsinya lebih banyak dan lebih murah dibandingkan Bu sarmi. Aku lebih suka Warung Bu Was yang di sekitar gerbang belakang. Karena tempatnya lebih adem dan yang beli biasanya lebih banyak cewek-cewek jadi lebih aman kalau beli makan sendirian. Kalau Bu Was Ngoresan itu biasanya para Mas-Mas gitu, hahaha.

5. Rica-Rica Ayam "Bu Sartini" ISI
Biasa disebut Rica ISI, karena letaknya di sekitar ISI. Ini warung mah tenar banget di kalangan mahasiswa UNS dan ISI. Jadi walaupun tempatnya yang agak "nyelempit" tapi pasti gampang ditemukan karena ramai dikunjungi para mahasiswa. Yang harus disiapkan buat makan ini ya pertama mental sih ya hahaha. Mental nungguin tempat yang kosong, karena pasti ramai banget deh terutama saat jam-jam makan siang. Warung ini mulai buka pukul 10.00. Menu andalan dan favorit adalah rica-rica ayam yang pedeees. Endeees deh rasanya, siap-siap tissue dan minuman aja kalau makan rica-rica ini. Kalau kamu nggak kuat makan yang terlalu pedas, kamu bisa minta nasinya tanpa disiram kuah. Tapi jangan khawatir buat kamu yang ngak suka makan pedas, ada pilihan sayur dan lauk pauk lainnya kok di warung itu. Ditambah banyak gorengan yang bisa kamu pilih, favoritku sih tahu bakso! Harganya dijamin nggak bikin kantong bolong deh.

6. Warung Lotek Bu Warni
Siapa yang nggak tahu dengan warung ini? Ah dijamin kamu belum dianggap mahasiswa UNS Kentingan seutuhnya. Karena warung ini terkenal banget. Bisa buka dari pagi sampai malam, begitu juga saat bulan puasa. Warung ini biasanya jadi alternatif buat anak-anak kos di saat hari libur. As you know ya kalau hari Sabtu dan Minggu di daerah UNS itu banyak warung makan yang tutup. Jadi bayangkan aja weekend aja banyak yang tutup apalagi hari libur nasional (pengalaman banget ya aku, keliatan banget jarang pulang rumah hahaha). Jadi kalau udah nggak tau lagi mau makan apa, yaudah ujung-ujungnya lari deh ke warung Bu Warni ini. Menu makanannya nggak cuma lotek kok ada banyaak deh, seperti: gado-gado, ayam/tempe penyet, nasi goreng, mie goreng/kuah, lontor opor goyang, dan lainnya deh banyaaak. Harganya juga ramah kok buat anak kos kayak aku dulu hahaha. Warung Bu warni ada 2 yaitu di dekat kampus STIKES Aisyah yang deket lampu bangjo ke arah RS Moewardi itu dan satu di daerah menuju RSJ Kentingan. Kalau bawa teman banyak, aku sarankan ke warung yang deket STIKES Aisyah aja, tempatnya luas kok.

Oke, segitu dulu ya. Besok aku lanjutin yaaaa, pegel euuuuy. Sambil mau bikin daftar dulu ya, byeee :D

Boleh cek di sini untuk part 2 nya.

Comments

  1. Replies
    1. hahahaha iya nama baru Putri Mariza. AAAh I'm happy beacause you're my first comment-er hahaha

      Delete
  2. ya ampun, sampai 2016 Kharizmaku masih ada yaa....
    waktu kesana beberapa waktu lalu pas gak jualan kayaknya, aq kira udah kukutan. nasgor kenangan!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menuju Operasi Amandel (Tonsilitis)

Ada orang yang bilang kalau mau sakit yang enak yaudah sakit amandel aja, abis operasi bisa enak makan es krim yang banyak. Nah awalnya jauh sebelum detik-detik operasi amandel juga kepikiran begitu. Wah asyik dong bisa makan es krim yang banyak. Saya senang banget makan es krim karena saya tau saya saat itu nggak bisa bebas makan es krim. Kalau kebanyakan makan minum yang dingin begitu biasanya langsung demam. Tapi setelah saya menjalani operasi tonsilitis alias amandel, wah buang-buang jauh deh pemikiran abis operasi enak bisa makan es krim. Karena apa? Boro-boro makan es krim yang lembut itu enak, mau nelan air liur aja sakit coooy. Jadi sekarang kalau ada yang bilang sakit amandel itu enak, saya bakalan nyinyir. Iya dia belum ngerasain, lah saya yang ngerasain, yang tahu sakitnya kayak apa hahaha. Oke kali ini mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman operasi amandel yang lalu. Tapi kayaknya udah basi banget ya? Secara operasinya udah bulan Agustus lalu, tapi karena udah janji ya

Ber-DIALOOG bersama Teman Hidup Traveloka!

    Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan, tanpa disangka-sangka terjadi saat di masa lampau. Masih terekam jelas kondisi awal Covid-19 menyerbu dunia, membuat kehidupan seolah-olah lumpuh. Kondisi yang membuat orang-orang untuk mau - nggak mau lebih banyak bertahan dan tinggal di rumah atau di suatu tempat saja dengan membatasi mobilitas.      Kondisi tersebut tanpa disadari membuat tren staycation semakin meningkat di masa seperti ini. Staycation berasal dari penggabungan dua kata, stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut Cambridge Dictionary , staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau di dekat rumah tanpa pergi atau melakukan perjalanan ke tempat lain.      Staycation biasanya dilakukan dengan menikmati waktu liburan dengan menginap di hotel berbintang yang kondisinya dianggap lebih nyaman daripada di rumah, biasanya di hotel dengan minimal bintang empat atau lima. Cara ini dianggap ampuh untuk menghilangkan stress atau penat dari rutinitas setiap hari deng

Nasihat Papa tentang Om Thomas

Kata Papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli. Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik. Anak-anakku jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan. Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan. Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga. Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan. Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang, yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan. Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. Percayalah, Dan jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya. Tere Liye (dalam "Negeri di Ujung Tanduk")