Skip to main content

Ber-DIALOOG bersama Teman Hidup Traveloka!




    Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan, tanpa disangka-sangka terjadi saat di masa lampau. Masih terekam jelas kondisi awal Covid-19 menyerbu dunia, membuat kehidupan seolah-olah lumpuh. Kondisi yang membuat orang-orang untuk mau - nggak mau lebih banyak bertahan dan tinggal di rumah atau di suatu tempat saja dengan membatasi mobilitas.

    Kondisi tersebut tanpa disadari membuat tren staycation semakin meningkat di masa seperti ini. Staycation berasal dari penggabungan dua kata, stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut Cambridge Dictionary, staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau di dekat rumah tanpa pergi atau melakukan perjalanan ke tempat lain. 

    Staycation biasanya dilakukan dengan menikmati waktu liburan dengan menginap di hotel berbintang yang kondisinya dianggap lebih nyaman daripada di rumah, biasanya di hotel dengan minimal bintang empat atau lima. Cara ini dianggap ampuh untuk menghilangkan stress atau penat dari rutinitas setiap hari dengan biaya yang lebih murah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang pada bulan Mei 2021 berada di level 45,23 persen. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup drastis mencapai 20,91 poin persentase bila dibanding dengan Mei tahun 2020. Bulan Mei 2021 juga bertepatan dengan adanya libur lebaran yang dihimbau pemerintah untuk masyarakat tidak melakukan mudik ke kampung halaman. 

                                Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta 

    Tahun 2022 menjadi tahun yang istimewa buat aku dan #TemanHidup alias suami, karena alhamdulillah bisa diberikan amanah untuk InsyaAllah segera menjadi orang tua. Dari awal pernikahan, kami nggak punya banyak waktu untuk bisa bersama karena alasan Long Distance Marriage (LDM). Rencana awal ingin bisa melakukan babymoon di Bandung, menikmati hari-hari santai di kota kembang tersebut tapi apa daya karena kondisi aku yang cepat lelah dan jarak Medan (kota domisili saat ini) - Bandung cukup jauh dan melelahkan, akhirnya kami urungkan. Rencana babymoon hilang menguap begitu saja, cuma bisa menikmati beberapa hari libur di Padang sekalian kondangan ke tempat teman.

    Rasanya memang nggak sabar untuk bisa segera ketemu calon bayi yang InsyaAllah rilis akhir tahun ini, aku dan #TemanHidup sudah merencanakan untuk bisa berlibur bersama dengan sensasi baru yaitu membawa anak, pasti merepotkan tetapi juga tentu mengasyikkan. Karena liburan mendatang bukan cuma dua orang dewasa aja namun ditambah dengan satu bayi, sehingga aku dan #TemanHidup lebih memilih liburan di tempat yang bisa dinikmati bersama secara santai. Salah satu pilihannya adalah staycation di suatu tempat yang lengkap fasilitas dan pemandangannya. Kami memilih untuk bisa staycation santai di Dialoog Hotel Banyuwangi


Alasan Memilih Banyuwangi

    Banyuwangi, adalah sebuah kabupaten yang berada di ujung paling timur Pulau Jawa, yang dikenal dengan julukan The Sunrise of Java karena menjadi daerah yang pertama terkena sinar matahari terbit di Pulau Jawa. Berikut beberapa alasan kenapa aku memilih untuk berencana liburan ke Banyuwangi, antara lain:

1. Banyuwangi Memiliki Pantai yang Mempesona
    Rasa-rasanya udah lama banget aku nggak mengunjungi pantai yang cantik nan indah yang bisa     mengembalikan mood dan bisa kembali "hidup" untuk bisa menjalani aktivitas sehari-hari. Rasa rileks yang mungkin selama ini nggak begitu aku rasakan saat mengandung atau bahkan menuju hari H kelahiran, jadi perlu banget rasanya untuk menambah asupan pemandangan yang indah dengan melihat pantai, mendengarkan deburan ombak, merasakan tiupan angin, serta bisa menikmati waktu dengan santai di pantai.
    
    Melihat review orang-orang, pantai-pantai yang memesona di Banyuwangi antara lain: Pantai Pulau Merah yang memiliki air yang jernih seperti kristal dan pasir putih yang menawan, Pantai G-Land yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan namanya telah menggaung hingga luar negeri, Pantai Teluk Hijau yang terlihat kehijauan dari kejauhan karena kawasan perairan dangkalnya terdapat alga yang memantulkan warna hijau, serta Pantai Sukamade yang akan menghibur aku dengan adanya habitat penyu yang istimewa.

2. Banyuwangi Punya Kuliner yang Beraneka Ragam
    Tinggal di Pulau Sumatra membuat aku  sering merindukan cita rasa masakan di tanah Jawa, dan pastinya Banyuwangi punya beraneka ragam kuliner yang dapat memanjakan lidah. Salah satu hobi aku dan #TemanHidup dari semasa pacaran adalah berwisata kuliner. 
    
    Kami ingin mencoba Sego Tempong yang terkenal di Banyuwangi, Pecel Rawon, Rujak Soto, Sego Cawuk, Pecel Pitik, Tahu Petis (selama aku dan #TemanHidup honeymoon di Malang, kami sering banget beli tahu petis karena saking sukanya), Pecel Pincuk, dan tentunya cita rasa Bakso di Tanah Jawa yang biasanya rasanya super duper mantap yang bisa menaikkan mood apalagi setelah hamil yang dibatasi pilihan makanannya.

3. Mengenang Masa Kecil
    Banyuwangi sangat berdekatan dengan kabupaten Situbondo, tempat di mana aku menghabiskan waktu saat Sekolah Dasar. Situbondo jadi tempat dengan berjuta-juta kenangan indah yang sampai saat ini masih terekam dengan baik. Di Situbondo itulah juga aku punya banyak kenangan dan memori dengan almarhum Bapak tercinta yang sudah meninggal tahun 2019 silam. Di sinilah aku bisa tinggal serumah paling lama dengan Bapak dan anggota keluarga lainnya, sebelum akhirnya kemudian dipisahkan oleh jarak dan tuntutan hidup. 
    
    Jarak Banyuwangi - Situbondo yang dekat itulah membuat aku semakin ingin berlibur ke Banyuwangi. Apalagi kalau anggota keluarga baru kami sudah lahir, bisa sekalian mengenalkan tempat kenangan masa kecil Ibunya ke anak kami, walaupun pasti memang dia belum mengerti. Tetapi kami ingin membangun dialog-dialog kebaikan semenjak dini untuk membentuk karakter keluarga yang lebih terbuka.

    Situbondo juga punya Taman Nasional Baluran yang menjadi destinasi wisata yang sangat populer saat ini, berbeda dengan saat aku masih tinggal di Situbondo. Baluran yang di-branding sebagai Africa Van Java letaknya juga di perbatasan Situbondo dan Banyuwangi. Di Baluran ini kami bisa memandang savana cantik dari kejauhan dengan dilengkapi berbagai satwa yang bisa membuat aku, suami, dan tentunya bayi kesayangan kami untuk bisa menikmati alam lebih dekat lagi. 

    Tak hanya itu, Situbondo juga punya makanan favorit aku yang namanya Tajin Palappa, rasanya sudah berpuluh-puluh tahun aku tidak mencicipi makanan khas tersebut lagi. Tajin Palappa ini sejenis bubur yang disajikan dengan bumbu kacang dan dilengkapi dengan sayuran, biasanya dikonsumsi untuk sarapan pagi.

4. Banyuwangi sudah Punya Bandara Bikin Akses Makin Mudah
   Kabar menggembirakan adalah Banyuwangi udah punya bandara yaitu Banyuwangi International Airport. Rencana liburan nanti kami ingin membawa bayi untuk bepergian, pastinya kami lebih memilih transportasi yang lebih praktis dan cepat, pilihannya adalah naik pesawat. Jadi dengan mudahnya kami bisa memesan tiket pesawat dari Medan menuju Banyuwangi. 
    
    Tentunya sekarang udah nggak ribet lagi kalau memesan tiket pesawat, langsung saja bisa akses Traveloka! Kamu bisa akses langsung melalui websitenya atau langsung install aplikasinya di handphone kesayangan kamu.

5. Staycation di Dialoog Hotel Banyuwangi yang Jadi Magnet Wisata
    Semenjak aku dan suami menikah memang lebih menikmati staycation  karena alasannya jadi bisa punya banyak waktu untuk bisa ngobrol satu sama lain, apalagi kami kan LDM. Sama seperti namanya, Dialoog, kami lebih suka berdialog satu sama lain, lebih mengenal satu sama lain. Apalagi kondisi aku yang lagi hamil atau bahkan kalau sudah melahirkan, pasti pilihan staycation menjadi pilihan yang paling aman, nyaman, dan menyenangkan bagi kami.

    Staycation di Dialoog Hotel Banyuwangi menjadi pilihan yang tepat  karena tempatnya yang nyaman dan praktis karena juga menawarkan suasana dan fasilitas yang didesain untuk menginap sekaligus berwisata. Hotel berbintang empat ini letaknya di pesisir timur Banyuwangi dan sangat populer, karena pemandangan yang diberikan dan juga desain hotelnya yang minimalis begitu memikat hati para tamu yang ingin menginap.

    Dialoog Hotel memanjakan tamu yang datang dengan pemandangan Selat Bali yang cantik dengan dihiasi pepohonan kelapa yang menjulang, seperti berasa liburan di Bali. Suatu pemandangan yang paripurna, birunya laut dan hijaunya pepohonan yang mampu menyegarkan mata bagi yang memandangnya. Lokasinya yang berada di pinggir pantai itu juga yang bisa menyenangkan hati menjadi tempat bersantai, lari kesana kemari, menghirup udara, menikmati minuman dan kudapan di sore hari sambil berinteraksi dan berdialog antara aku dan #TemanHidup (suami dan anak). 

    Berbicara tentang desain hotelnya, kesan mewah memang tak lepas dari persepsi pertama saat melihat hotel tersebut. Kamar dengan dilengkapi balkon menambah pengalaman menginap yang luar biasa sehingga bisa menikmati pemandangan langsung ke laut.

 
   Dialoog Hotel Banyuwangi juga memiliki fasilitas yang menarik yang bikin semakin betah untuk menginap di sana meliputi:
  • Casabanyu Restaurant & Bar, restoran dengan konsep terbuka yang menghidangkan berbagai macam makanan dengan memberikan sensasi menikmati hidangan dengan pemandangan yang sesuatu yaitu Selat Bali, semakin sedap rasa makanan untuk sarapan, makan, siang, bahkan makan malam.
  • Infinity Pool, salah satu fasilitas hotel yang begitu populer, kami bisa berenang dengan pemandangan indah yang bikin semakin menambah koleksi foto-foto semakin banyak dan cantik.
  • Spa, liburan santai sekalian massage jadi semakin me-recharge baterai, jadi sekalian bisa me time karena selepas melahirkan.
                                                                                               Sumber : Traveloka  

  Selain aktivitas staycation, momen liburan bersama ini bisa sekalian menambah koleksi foto-foto keluarga kecil kami di suatu tempat dengan pemandangan yang indah. Tentunya itu akan menjadi memori yang indah buat kami, walaupun nanti anak kami mungkin tidak bisa mengingat momen tersebut, tetapi kami bisa menunjukkan foto-foto tersebut dan menceritakan bahwa kami bertiga pernah menikmati indahnya alam di Dialoog Hotel Banyuwangi

    Melihat foto-foto Dialoog Hotel Banyuwangi saja rasanya udah bikin nggak sabar untuk bisa segera memboyong keluarga kecil ini ke sana, menikmati suasana hening dan damai di sana. Semoga setelah aku melahirkan dan si bayi sudah bisa diajak jalan-jalan bisa langsung diberikan kesempatan untuk liburan ke Banyuwangi, jadi kalau kamu mau booking hotel murah di Traveloka untuk semakin melengkapi rencana liburan kamu biar nggak ribet pastikan langsung pesan di Traveloka Hotel aja.

    Mau liburan jadi lebih mudah melalui Traveloka, dan aku juga punya pengalaman yang menyenangkan sebagai pengguna Traveloka. Awal tahun 2020 aku berencana untuk liburan ke Jepang bersama teman-teman kantor, tapi karena Covid-19 yang waktu itu mulai mewabah, jadi kami membatalkan rencana tersebut, dan mengajukan refund atas pembatalan pergi ke Jepang tersebut. Dan, alhamdulillah Traveloka mengembalikan seluruh biaya pesawat yang kami pesan melalui Traveloka. Terimakasih Traveloka, I love you so much!!!

    Hidup ini harus seimbang antara bekerja dan libur, namanya juga work life balance ya, nggak melulu memikirkan diri sendiri, kita harus bisa menyempatkan waktu untuk berbagi kenangan dan cerita dengan orang-rang tersayang, terutama keluarga. Sembari kita juga menenagkan pikiran agar bisa berpikir lebih jernih dan hidup semakin bernyawa setelah liburan. Kalau kata Jack Adam Weber, liburan yang sering kita butuhkan itu adalah bebas dari pikiran kita sendiri.


    Jadi cus aja rencanakan liburan kamu ke kota-kota impian kamu bersama Traveloka. Yuk '#LihatDuniaLagi dan bikin #StaycationJadi'  dengan Traveloka! Langsung meluncur ke Traveloka lewat link ini: https://trv.lk/kompetisi-lihatdunialagi-bloggerperempuan 
 

With Love,

Sassa


Comments

Popular posts from this blog

Menuju Operasi Amandel (Tonsilitis)

Ada orang yang bilang kalau mau sakit yang enak yaudah sakit amandel aja, abis operasi bisa enak makan es krim yang banyak. Nah awalnya jauh sebelum detik-detik operasi amandel juga kepikiran begitu. Wah asyik dong bisa makan es krim yang banyak. Saya senang banget makan es krim karena saya tau saya saat itu nggak bisa bebas makan es krim. Kalau kebanyakan makan minum yang dingin begitu biasanya langsung demam. Tapi setelah saya menjalani operasi tonsilitis alias amandel, wah buang-buang jauh deh pemikiran abis operasi enak bisa makan es krim. Karena apa? Boro-boro makan es krim yang lembut itu enak, mau nelan air liur aja sakit coooy. Jadi sekarang kalau ada yang bilang sakit amandel itu enak, saya bakalan nyinyir. Iya dia belum ngerasain, lah saya yang ngerasain, yang tahu sakitnya kayak apa hahaha. Oke kali ini mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman operasi amandel yang lalu. Tapi kayaknya udah basi banget ya? Secara operasinya udah bulan Agustus lalu, tapi karena udah janji ya

Nasihat Papa tentang Om Thomas

Kata Papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli. Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik. Anak-anakku jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan. Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan. Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga. Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan. Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang, yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan. Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. Percayalah, Dan jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya. Tere Liye (dalam "Negeri di Ujung Tanduk")