Skip to main content

Mitos Dibalik Halaman Persembahan Skripsi

Dulu teman saya pernah bilang hati-hati kalau menuliskan nama pacar di halaman persembahan skripsi. Konon katanya, biasanya yang menuliskan nama kekasih di halaman tersebut kebanyakan hubungannya tidak bertahan lama alias rentan berakhir. Karena sudah banyak contoh yang kejadian. Bahkan teman saya menyebutkan beberapa nama kakak tingkat yang di halaman skripsinya menyebutkan nama kekasihnya dan berakhir putus.

Karena omongam teman saya itu, saya sempat maju mundur untuk menyebutkan nama dia di halaman persembahan skripsi saya. Awalnya saya hanya menyebutkan ucapan terimakasih untuk Bapak Ibu dan kedua kakak saya. Karena memang masih terpengaruh oleh perkataan teman saya. Tapi setelah terus berpikir, saya kok tega-teganya nggak menuliskan nama dia ya. Sedangkan peran dia dalam kehidupan saya saat itu memang cukup besar. Hari-hari saya diwarnai oleh dia, bahkan dia juga banyak membantu saya dalam urusan skripsi dari hal terkecil hingga hal yang menyulitkan. Jadi yaudah aku menambahkan ucapan terimakasih untuknya di halaman depan itu. Saya mengesampingkan kata-kata teman saya tentang mitos penulisan nama orang spesial di halaman persembahan bagian depan. Saat itu saya berpikir bahwa saya dan dia akan bertekad dan berkomitmen untuk saling menjaga keutuhan hubungan kami, terlebih lagi melihat history hubungan yanga telah kami lalui berdua. Saya nggak ambil pusing dengan mitos putus itu. Saya nggak percaya, meyakinkan hati kecil saya yang masih sedikit goyah.

Keputusan menuliskan namanya pun semakin goyah tatkala saya dan beberapa teman sedang berkumpul di depan ruang jurusan. Memang depan ruang jurusan itu mirip basecamp-nya anak-anak angkatan lama yang tengah mengerjakan skripsi. Saat berkumpul tersebut ada sepasang kekasih yang ikut berdiskusi asyik. Di angkatan kami memang cukup banyak yang terlibat cinta lokasi sehingga tidak aneh kalau setiap diskusi akan berjumpa dengan pasangan-pasangan yang memadu kasih hahaha. Hingga tiba-tiba muncullah pembicaraan tentang menuliskan nama orang spesial di halaman persembahan. Dan apa pembacaaaa? Mereka berdua (re: pasangan kekasih tersebut) tidak saling menyebutkan nama mereka satu sama lain di halaman depan skripsi itu. Alasan mereka adalah belum tentu satu sama lain ditakdirkan untuk hidup bersama hingga jenjang pernikahan. Jika nanti mereka tidak bersama, jadi tidak ada nama yang masih terukir manis di skripsi tersebut. Cukup masuk akal memang alasan tersebut, karena kita sebagai manusia juga nggak ada yang tahu dengan siapa kita berjodoh di masa depan. Wajar memang kalau mereka ingin mengantispasinya.

Sesaat setelah mendengarkan mereka, kemudian hati saya goyah kembali. Saya menjadi urung untuk menuliskan namanya. Apalagi masih ada kesempatan untuk mengubahnya. Karena memang saat itu semua halaman skripsi saya sudah saya cetak semua. Tapi nggak apa-apa toh cuma ganti 1 halaman aja per skripsi sebelum terlanjur dijilid. Cukup lama saya berpikir kembali, dan ternyata saya membulatkan tekad untuk tetap mempertahankan namanya di halaman depan persembahan skripsi saya. Apa alasan utama saya menuliskan namanya? Karena saya peduli kepadanya, peduli dengan semua yang sudah dia lakukan kepada saya, dan benar-benar sebagai ungkapan terumakasih atas semua bantuan tulus darinya. Apalagi kami sudah bersama sekian tahun, sudah sangat banyak kami saling berkontribusi satu sama lain. Sembari mengesampingkan mitos yang ada dan menguatkan hati jika hubungan kami akan bertahan lama.

Tapi apa yang terjadi setelah itu pembaca? Hahaha. Saya dan iti menyelesaikan hubungan kami tepat di saat terkhir saya berada di Solo. Ironis bukan? Di bulan yang sama saat saya diwisuda. Iya hubungan kami kandas setelah beberapa hari saya mendapat gelar sarjana secara resmi. Dan yang kemudian saya sadari setelah semua terjadi adalah mitos tersebut ternyata benar-benar terjadi kepada saya. Semua sih antara percaya nggak percaya ya hahaha. Tapi memang benar hubungan kami memburuk seketika. Kami (dia lebih tepatnya) tidak bisa mempertahankan hubungan dan melupakan semua hal yang sudah kami lalui bersama dengan mudahnya. Huh, sepertinya saya perlu menghela nafas panjang di kalimat yang saya tuliskan iti karena dada saya masih terasa sesak mengingat semuanya.

Semua yang terjadi kepada saya atau beberapa orang yang mengalami kandasnya hubungan percintaan mereka (dan termasuk saya) saat memutuskan untuk menaruh nama orang terkasih di halaman spesial karya bersejarah itu tak semuanya terjadi. Karena saya yakin masih banyak orang-orang di luar sana yang hubungannya masih berlanjut setelah mereka saling menuliskan nama orang yang mereka cintai. Kalau memang kita sudah yakin untuk menuliskan namanya ya tuliskan saja. Yang terpenting adalah menanamkan pikiran yang positif kalau kalian bersama pasangan akan tetap saling mempertahankan hubungan dengan tekad yang kuat satu sama lain. Tidak seperti saya, yang diawali kegoyahan terpengaruh dengan mitos yang beredar. Dan saya pun menyesali namanya ada di karya bersejarah yang susah payah saya susun. Karena kami sudah tidak mampu berhubungan bersama kembali dan hal yang menyakitkan adalah namanya akan selalu ada di karya skripsi saya.

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Operasi Amandel (Tonsilitis)

Ada orang yang bilang kalau mau sakit yang enak yaudah sakit amandel aja, abis operasi bisa enak makan es krim yang banyak. Nah awalnya jauh sebelum detik-detik operasi amandel juga kepikiran begitu. Wah asyik dong bisa makan es krim yang banyak. Saya senang banget makan es krim karena saya tau saya saat itu nggak bisa bebas makan es krim. Kalau kebanyakan makan minum yang dingin begitu biasanya langsung demam. Tapi setelah saya menjalani operasi tonsilitis alias amandel, wah buang-buang jauh deh pemikiran abis operasi enak bisa makan es krim. Karena apa? Boro-boro makan es krim yang lembut itu enak, mau nelan air liur aja sakit coooy. Jadi sekarang kalau ada yang bilang sakit amandel itu enak, saya bakalan nyinyir. Iya dia belum ngerasain, lah saya yang ngerasain, yang tahu sakitnya kayak apa hahaha. Oke kali ini mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman operasi amandel yang lalu. Tapi kayaknya udah basi banget ya? Secara operasinya udah bulan Agustus lalu, tapi karena udah janji ya

Ber-DIALOOG bersama Teman Hidup Traveloka!

    Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan, tanpa disangka-sangka terjadi saat di masa lampau. Masih terekam jelas kondisi awal Covid-19 menyerbu dunia, membuat kehidupan seolah-olah lumpuh. Kondisi yang membuat orang-orang untuk mau - nggak mau lebih banyak bertahan dan tinggal di rumah atau di suatu tempat saja dengan membatasi mobilitas.      Kondisi tersebut tanpa disadari membuat tren staycation semakin meningkat di masa seperti ini. Staycation berasal dari penggabungan dua kata, stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut Cambridge Dictionary , staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau di dekat rumah tanpa pergi atau melakukan perjalanan ke tempat lain.      Staycation biasanya dilakukan dengan menikmati waktu liburan dengan menginap di hotel berbintang yang kondisinya dianggap lebih nyaman daripada di rumah, biasanya di hotel dengan minimal bintang empat atau lima. Cara ini dianggap ampuh untuk menghilangkan stress atau penat dari rutinitas setiap hari deng

Nasihat Papa tentang Om Thomas

Kata Papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli. Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik. Anak-anakku jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan. Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan. Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga. Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan. Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang, yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan. Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. Percayalah, Dan jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya. Tere Liye (dalam "Negeri di Ujung Tanduk")