Skip to main content

Perjalanan Mudik Lebaran 2022

 Selamat Hari Raya Idul Fitri!


Momen lebaran selalu identik dengan momen kebersamaan, khususnya di Indonesia. Semenjak dunia ini dilanda Covid-19 yang membuat lumpuh pergerakan, lebaran dirayakan tidak seperti biasanya. Dua tahun ke belakang, orang-orang lebih banyak merayakan momen itu di rumh masing-masing. Beda halnya dengan tahun 2022 ini, bahkan pemerintah pun mengizinkan masyarakatnya untuk melakukan mudik.


Jujur, waktu di awal tahun memang udah nggak kepikiran mudik. Masih berpikir “Oh mungkin tahun ini masih sama seperti tahun-tahun yang lalu, cukup di rumah masing-masing saja.” Bicara tentang kebiasaan baru itu, sebenarnya ada suka dan dukanya sih. Dukanya, tentu nggak bisa ketemu dengan keluarga tercinta, makan makanan khas lebaran, ziarah ke makam keluarga (dalam hal ini kalau aku ya mengunjungi makam Bapak). Kalau sukanya, jadi bisa lebih berhemat hahaha. Karena biasanya pasti akan ada aja pengeluaran waktu lebaran. Alhamdulillah dua tahun ke belakang, THR masih lancar dikasih full dari kantor dan aman terkendali. Oh kurang amannya mungkin tahun 2021, karena juga buat persiapan nikah ya. Dan alhamdulillah di pihak wanitanya, full aku nanggung sendiri, yeay 😄😄


Dua tahun sudah berjalan dengan baik, jadi yaudah kayak udah menjadi kebiasaan gitu. Sampai yang akhirnya pemerintah mengumumkan cuti bersama yang cukup panjang. Wow, jadilah aku galau. Kenapa galau? Sesungguhnya ada beberapa faktor. Pertama, pasti tingkat mobilitas masyarakat Indonesia tinggi, aku takut Covid-19 hahaha. Aku trauma deh terkonfirmasi positif Covid-19 di bulan Februari lalu. Kedua, sekarang aku udah menikah, sudah ada dua keluarga yang harus dibagi waktunya. Dan karena suami juga nggak bisa pulang, jadi pasti agak canggung kalau aku sendiri ke kota tempat tinggal suami (maklum masih awal-awal menikah hihihi). Karen juga aku baru kenal keluarganya dalam waktu dekat aku sama dia berhubungan kembali, kecuali sama adiknya yang cewek yang emang udah pernah tinggal di satu atap yang sama selama beberapa hari waktu adiknya ke Solo. Dan juga perjalanan Temanggung - Tulungagung cukup jauh, kenapa terkadang orang lebih memilih jodohnya yang tinggalnya deketan aja. Lah tapi gimana lagi ya, sama yang deket nggak berjodoh sih hahahaha. 


Setelah cukup matang berpikir, yaelah pertimbangannya sih cuma satu ya, karena liburnya cukup lama yaitu sepuluh hari, ngapain aku lama-lama di Medan sendirian, ntar susah cari makannya dan emang udah kangen makan makanan rumah, yowis ya akhirnya memutuskan mudik. Walaupun emang pembelian tiket pulangnya agak molor, menunggu suatu keajaiban perubahan harga tiket, buset mahal banget loh tembus 2 juta loh. Padahal masih suasana Covid-19, kok seenak jidat banget maskapai-maskapai naikin harga tiket. Harga segitu dapet pesawat ya yang image-nya kurang bagus itu hahahaha. Sampai dibela-belain juga nyari promo, mentok di Rp 2.021.600,- dari harga aslinya yang sebesar Rp 2.159.600,- (eh ini aku berasa nulis siaran pers ya dari gaya bahasanya hahaha).

Yah lumayan dong ya diskon 150 ribu, wkwkwkwk. Nggak sampai di situ aja cobaannya mudik kali ini, sampai akhir cerita kayaknya ini jadi mudik yang tidak mulus hahaha. Muncullah surat edaran dari holding company kalau cuti bersama kali ini akan memotong cuti tahunan, nah surat edarannya itu merujuk dari aturan yang dikeluarkan Kemenaker. Wah meradang dong ya orang-orang, masalahnya kenapa itu diumumkan menuju liburan, kenap nggak dari awal. Serikat Pekerja pada maju dong, dan kemudian beberapa hari eh ada surat edaran baru kalau cuti bersama ini nggak potong cuti tahunan. Alhamdulillah berarti aman ya. Karena emang jatah cuti aku udah tinggal dikit, bulan Maret lalu ngambil cuti cukup panjang karena suami balik Indonesia. Oke semakin mantap pulang dong ya, yaudah mulai cari tiket balik Medan. Sama seperti yang sudah-sudah, menunda-nunda beli tiket yang berujung pada tiket tanggal 8 Mei udah sold out. Alhasil yaudah deh beli aja buat tanggal 9 Mei, cuti sehari aja deh. Pertimbangannya juga di tanggal 9 Mei itu lebih murah, di bawah 2 juta nggak kayak di tanggal 8 Mei.


Semua sudah aman, niat hati nggak bawa laptop yaudah kerjaan-kerjaan aku unggah ke Cloud aja biar kalau sewaktu-waktu diminta kerja bisa pinjem laptop Mbak atau komputer Mas di rumah. Karena males bawa berat-berat, aku beliin makanan-makanan via online aja ke rumah jadi aku nggak perlu bawa oleh-oleh. Bukankah aku membawa diriku ini sendiri sudah sangat berharga? Hahahaha kemudian pada pingsan yak…


Tapi, ternyata nggak semulus itu perjalanan. Mudik itu bukannya cuma masalah rezeki uang aja ya, tetapi ada hal lain lagi yang bisa menentukan. Inget banget dulu waktu awal-awal tinggal di Medan tahun 2017. Baru sebulan di Medan trus Lebaran, padahal gaji baru kecil banget, nggak bisa buat beli tiket PP, THR-nya aja cuma berapa ratua ribu doang, ya beda jauh kalau sama sekarang hahaha flexing ye! Tetapi beruntung punya Mbak yang baik hati, dibeliin tiket PP biar bisa berlebaran di rumah. Aku sih bilangnya minjem aja ntar kalau udah punya banyak duit bakal diganti, eh si Mbak kekeuh nggak mau yaudah aku sih ikhlas banget hahaha.


Tahun 2020 dan 2021 nggak bisa mudik lebaran karena Covid-19 dan nggak ada libur panjang, padahal aman banget buat beli tiket. Nah tahun ini persiapan udah beres, eh kesehatannya yang nggak mendukung. Ckckckck, agak lain sih emang situasi lebaran tahun ini. Alhamdulillah aku dinyatakan positif hamil, takjub sih emang. Berarti berhasil sekali ya usaha kami waktu suami cuti bulan Maret lalu ya hahaha. Dan nggak sadarnya ternyata aku hamil padahal di akhir Maret itu aku sempat dinas ke Bogor, dan nenteng-nenteng koper naik turun tangga. Kayaknya pembahasan “baby” akan aku ceritakan di laman lain ya, ntar aku sambungkan kalau sudah ada aku bikin.


Jadi tanggal 28 April, aku berkunjung ke dokter Obgyn untuk kontrol kandungan, iya sehari sebelum berangkat. Sayang beribu sayang, aku diharuskan untuk istirahat total atau bedrest selama tiga hari karena kandungan lemah. Jelas sedih, waktu aku tanya aman nggak untuk naik pesawat, dokternya nggak melarang dan juga nggak menperbolehkan, jadi beliau menjawab “berisiko tinggi”. Keluar ruang periksanya, langsung basah dong ujung mata aku. Campur aduk banget, mikir kandungan dan mikir pulang. Di perjalanan balik dari rumah sakit juga masih nangis sesenggukan. Teman sekontrakan aku jelas nggak tega ninggalin aku sendiri di rumah, dengan kondisi aku nggak boleh ngapa-ngapain, nggak boleh beraktivitas berat. Nelpon ibu sambil nangis, tentu ibu menenangkan aku tapi pasti di lubuk hatinya juga nggak tega. Akhirnya diputuskan kalau aku nggak jadi mudik dan melakukan refund untuk tiket-tiket yang udah dibeli. Rugi sih emang tapi masalahnya adalah pertaruhannya dengan calon bayi yang sudah ada detak jantungnya. Prinsip aku selama hamil ini adalah aku nggak boleh egois, aku harus memikirkan calon bayi ini juga dalam setiap keputusan karena di tubuhku ini nggak cuma tentang aku.


Sedih rasanya sih, berlebaran di kota orang dan di tengah hingar bingar euforia orang-orang mudik, ngeliat IG Stories temen-temen semuanya mudik. Aku cuma bisa tiduran di kamar rumah kontrakan. Saking nggak teganya Ibu sama aku, akhirnya diutuslah Mbakku untuk menyusul ke Medan, nemenin aku biar nggak sendirian banget di tengah ketidakleluasan gerak aku.


Tapi beneran lebaran kali ini tuh pengen banget pulang. Karena udah mau setahun aku nggak pulang rumah, 2020 akhir aku sempat pulang karena ada pertemuan dengan keluarga suami, awal 2021 pulang untuk lamaran, dan tengah 2021 pulang untuk menikah. Rasanya udah lama banget nggak pulang, nggak mencicipi makanan rumah. Udah rindu memuncak sampai girang banget mau mudik eh terhalang kesehatan. Mungkin kalau Mbakku nggak di Medan, setelah tiga hari bedrest atau aku merasa udah fit dan flek nggak muncul lagi, tentu aku udah langsung beli tiket pulang. Serindu itu sama Ibu, kayaknya itu yang akan dirasakan oleh perempuan yang sedang hamil, rasanya rindu Ibu, pengen minta maaf sama Ibu. Memulai hamil aja perjuangannya cukup berat, apalagi nanti hingga melahirkan dan membesarkan anaknya. Ah Ibu, aku kangen pulang ♥️



Comments

Popular posts from this blog

Mitos Dibalik Halaman Persembahan Skripsi

Dulu teman saya pernah bilang hati-hati kalau menuliskan nama pacar di halaman persembahan skripsi. Konon katanya, biasanya yang menuliskan nama kekasih di halaman tersebut kebanyakan hubungannya tidak bertahan lama alias rentan berakhir. Karena sudah banyak contoh yang kejadian. Bahkan teman saya menyebutkan beberapa nama kakak tingkat yang di halaman skripsinya menyebutkan nama kekasihnya dan berakhir putus. Karena omongam teman saya itu, saya sempat maju mundur untuk menyebutkan nama dia di halaman persembahan skripsi saya. Awalnya saya hanya menyebutkan ucapan terimakasih untuk Bapak Ibu dan kedua kakak saya. Karena memang masih terpengaruh oleh perkataan teman saya. Tapi setelah terus berpikir, saya kok tega-teganya nggak menuliskan nama dia ya. Sedangkan peran dia dalam kehidupan saya saat itu memang cukup besar. Hari-hari saya diwarnai oleh dia, bahkan dia juga banyak membantu saya dalam urusan skripsi dari hal terkecil hingga hal yang menyulitkan. Jadi yaudah aku menambahk

Menuju Operasi Amandel (Tonsilitis)

Ada orang yang bilang kalau mau sakit yang enak yaudah sakit amandel aja, abis operasi bisa enak makan es krim yang banyak. Nah awalnya jauh sebelum detik-detik operasi amandel juga kepikiran begitu. Wah asyik dong bisa makan es krim yang banyak. Saya senang banget makan es krim karena saya tau saya saat itu nggak bisa bebas makan es krim. Kalau kebanyakan makan minum yang dingin begitu biasanya langsung demam. Tapi setelah saya menjalani operasi tonsilitis alias amandel, wah buang-buang jauh deh pemikiran abis operasi enak bisa makan es krim. Karena apa? Boro-boro makan es krim yang lembut itu enak, mau nelan air liur aja sakit coooy. Jadi sekarang kalau ada yang bilang sakit amandel itu enak, saya bakalan nyinyir. Iya dia belum ngerasain, lah saya yang ngerasain, yang tahu sakitnya kayak apa hahaha. Oke kali ini mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman operasi amandel yang lalu. Tapi kayaknya udah basi banget ya? Secara operasinya udah bulan Agustus lalu, tapi karena udah janji ya

Ber-DIALOOG bersama Teman Hidup Traveloka!

    Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan, tanpa disangka-sangka terjadi saat di masa lampau. Masih terekam jelas kondisi awal Covid-19 menyerbu dunia, membuat kehidupan seolah-olah lumpuh. Kondisi yang membuat orang-orang untuk mau - nggak mau lebih banyak bertahan dan tinggal di rumah atau di suatu tempat saja dengan membatasi mobilitas.      Kondisi tersebut tanpa disadari membuat tren staycation semakin meningkat di masa seperti ini. Staycation berasal dari penggabungan dua kata, stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut Cambridge Dictionary , staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau di dekat rumah tanpa pergi atau melakukan perjalanan ke tempat lain.      Staycation biasanya dilakukan dengan menikmati waktu liburan dengan menginap di hotel berbintang yang kondisinya dianggap lebih nyaman daripada di rumah, biasanya di hotel dengan minimal bintang empat atau lima. Cara ini dianggap ampuh untuk menghilangkan stress atau penat dari rutinitas setiap hari deng