Skip to main content

A Warm Welcome

 Dear Sunshine,

ish ceileh Sunshine, lucu kali ya kalau manggil para pembaca dengan sunshine, harapannya sih kita punya hari dan cerita yang terus bersinar, bisa menggembirakan hati. Ceileeeeh, tapi boleh sih diaminkan.

Akhirnya aku nulis di blog ini lagi ya, setelah hiatus lama (mungkin hampir setahun lebih). Dan selama itu juga sudah banyak hal yang terjadi di kehidupan aku, banyak keajaiban dari Allah yang tidak terduga. Aku bersyukur sekali banyak hal baik yang dikabulkan Allah, doa-doa yang dipanjatkan saat malam, satu per satu dikabulkan Allah. 

Dengan kebaikan dari Allah itu aku sangat sangat sangat percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Di titik ini aku malah ngerasa aku yang semakin jauh dari Allah, malu rasanya. Allah sudah banyak mengabulkan doa dengan cara-Nya, memang nggak instan. Ada yang setelah sekian tahun doa tersebut baru dikabulkan, dengan cara yang tidak langsung tetapi harus melewati hal-hal yang rumit terlebih dahulu. Atau bahkan yang memang belum dikabulkan, namun ada cahaya terang yang memberikan sebuah jalan. Walaupun nggak menutup kemungkinan kalau jalan itu juga bukan buat aku, tapi aku berserah kepada Allah.

Dua tahun ini menjadi tahun-tahun berat buat kita semua, menghadapi pandemi Covid-19. Awalnya kukira ini mimpi buruk yang akan segera berakhir sesuai lembaran kerta 2020 ditutup. Namun ternyata mimpi buruk ini berlanjut hingga 2021, dan entah kapan berakhir. Banyak dari kita yang merasakan dampak: ekonomi, sosial, kesehatan, dsb. Kita harus survive dengan cara kita masing-masing selama ini. Uluran tangan dan dukungan menjadi penguat utama di masa seperti ini.

Dengan terpaan pandemi ini, aku bersyukur sekali masih dilimpahkan kesehatan yang luar biasa, dan nggak hanya itu, sangat bersyukur sekali bahwa kondisi keuangan nggak terganggu sama sekali. Mungkin seedikit tapi tidak signifikan. Yang biasanya sering perjalanan dinas, dan mendapatkan tambahan masukan, tapi semenjak pandemi ini perjalanan dinas sangat berkurang. Tapi alhamdulillah, malah aku lebih bisa menata kehidupan.

Semoga Covid-19 segera bisa cepat teratasi dengan lebih baik, sepertinya sedikit pesimis jika berharap pandemi ini segera berakhir. Namun apa yang diusung Singapura untuk berdamai dengan Covid-19 itu menjadi hal yang bisa kita lakukan. Bahwa nantinya Covid-19 ini menjadi flu biasa yang bisa terobati dengan mudah dan cepat, Aamiin.

Seiring dengan ketidakpastian iklim di masa seperti ini, semoga aku bisa lebih banyak bercerita dan bertukar pikiran dengan Sunshine. Lebih banyak tulisan yang muncul di blog, lebih banyak yang membaca, dan semakin lebih produktif di blog ini. Sebenernya juga ada beberapa tulisan yang mulai aku bikin, tapi hanya menjadi draft semata karena belum sanggup buat diselesaikan, nggak punya waktu untuk melanjutkan, ataupun ide yang sudah sirna. Nah karena pengen banget mewarnai blog ini lagi, aku lagi sering baca buku, baca literatur-literatur lain. Ada ketakutan kalau aku jadi semakin susah buat nulis tulisan bebas lepas, karena terbiasa menulis siara pers perusahaan yang sedikit formal dan kaku hahaha. 

Aku juga berharap blog ini semakin interaktif, lebih banyak yang bertukar pikiran dan pengalaman di sini. Kalau memang ada topik bagus yang bisa kita bahas bersama, dengan senang hati aku akan membuat tulisan tersebut. Semoga blog ini yang domainnya sudah menggunakan namaku nggak menjadi sia-sia, yang tiap tahun dibayarkan tapi tidak dihiasi ya. Setelah bertapa kesana kemari, aku memtuskan untuk menggunakan Dear Sassa. Alasannya kenapa? Karena aku ingin menjadi lebih dekat dengan pembaca, ingin bisa menjadi teman yang baik yang bisa mendengarkan cerita kalian juga.

See you on next post, sunshine!



Comments

Popular posts from this blog

Mitos Dibalik Halaman Persembahan Skripsi

Dulu teman saya pernah bilang hati-hati kalau menuliskan nama pacar di halaman persembahan skripsi. Konon katanya, biasanya yang menuliskan nama kekasih di halaman tersebut kebanyakan hubungannya tidak bertahan lama alias rentan berakhir. Karena sudah banyak contoh yang kejadian. Bahkan teman saya menyebutkan beberapa nama kakak tingkat yang di halaman skripsinya menyebutkan nama kekasihnya dan berakhir putus. Karena omongam teman saya itu, saya sempat maju mundur untuk menyebutkan nama dia di halaman persembahan skripsi saya. Awalnya saya hanya menyebutkan ucapan terimakasih untuk Bapak Ibu dan kedua kakak saya. Karena memang masih terpengaruh oleh perkataan teman saya. Tapi setelah terus berpikir, saya kok tega-teganya nggak menuliskan nama dia ya. Sedangkan peran dia dalam kehidupan saya saat itu memang cukup besar. Hari-hari saya diwarnai oleh dia, bahkan dia juga banyak membantu saya dalam urusan skripsi dari hal terkecil hingga hal yang menyulitkan. Jadi yaudah aku menambahk

Menuju Operasi Amandel (Tonsilitis)

Ada orang yang bilang kalau mau sakit yang enak yaudah sakit amandel aja, abis operasi bisa enak makan es krim yang banyak. Nah awalnya jauh sebelum detik-detik operasi amandel juga kepikiran begitu. Wah asyik dong bisa makan es krim yang banyak. Saya senang banget makan es krim karena saya tau saya saat itu nggak bisa bebas makan es krim. Kalau kebanyakan makan minum yang dingin begitu biasanya langsung demam. Tapi setelah saya menjalani operasi tonsilitis alias amandel, wah buang-buang jauh deh pemikiran abis operasi enak bisa makan es krim. Karena apa? Boro-boro makan es krim yang lembut itu enak, mau nelan air liur aja sakit coooy. Jadi sekarang kalau ada yang bilang sakit amandel itu enak, saya bakalan nyinyir. Iya dia belum ngerasain, lah saya yang ngerasain, yang tahu sakitnya kayak apa hahaha. Oke kali ini mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman operasi amandel yang lalu. Tapi kayaknya udah basi banget ya? Secara operasinya udah bulan Agustus lalu, tapi karena udah janji ya

Ber-DIALOOG bersama Teman Hidup Traveloka!

    Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan, tanpa disangka-sangka terjadi saat di masa lampau. Masih terekam jelas kondisi awal Covid-19 menyerbu dunia, membuat kehidupan seolah-olah lumpuh. Kondisi yang membuat orang-orang untuk mau - nggak mau lebih banyak bertahan dan tinggal di rumah atau di suatu tempat saja dengan membatasi mobilitas.      Kondisi tersebut tanpa disadari membuat tren staycation semakin meningkat di masa seperti ini. Staycation berasal dari penggabungan dua kata, stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut Cambridge Dictionary , staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau di dekat rumah tanpa pergi atau melakukan perjalanan ke tempat lain.      Staycation biasanya dilakukan dengan menikmati waktu liburan dengan menginap di hotel berbintang yang kondisinya dianggap lebih nyaman daripada di rumah, biasanya di hotel dengan minimal bintang empat atau lima. Cara ini dianggap ampuh untuk menghilangkan stress atau penat dari rutinitas setiap hari deng