Skip to main content

The Wedding Day Dream

Dialog dini hari banget yak. Karena emang lagi belum bisa tidur, masih megang laptop dan pengen nulis jadi begini deh ya hasil iseng-isengnya (padahal lagi minum obat loh). Kenapa tiba-tiba ngomongin pernikahan gini, Sa? Aseliiii random banget hahaha. Galau nikah? Nggak juga sih. Karena untuk saat ini emang belum memprioritaskan "nikah" di umur aku yang udah 24 tahun ini (ketahuan udah tua ya, hahaha). Seloooooow meeen, seloooooow!! Hahaha

Ngangkat tema ini sebenarnya mungkin karena banyak pancingan dari orang-orang di sekitar aku yang seumuran aku bahkan di bawah usia aku udah pada banyak yang menghelat pesta pernikahan. Bahkan udah ada yang punya bayi-bayi lucu, uuuuh utuk-utuk. Baru sadar aja kayaknya di geng SMP aku, cuman aku yang belum nikah. Ah asikin aja, masih banyak yang harus disiapkan deh menurutku. Nanti deh di waktu yang tepat dengan orang yang tepat pilihan Allah. Insha Allah :)

Oke ngomongin tentang pernikahan impian nih ye, pernikahan impian aku itu sekarang lebih realistis. Kalau dulu (zaman masih pakai seragam sekolah udah mikir pengen nikah yang seperti apa, hahaha) masih kebawa gaya-gaya pernikahan glamor ala artis sinetron di TV. Wkakakaka ketahuan banget ya nontonnya sinetron emak-emak. Pengen melangsungkan akad nikah di mesjid yang gede, resepsi yang mewah, dekornya luar biasa mewah, tamu udangan banyak. Itu sih impian saat masih ingusan.

Beriring jalannya waktu, bertambah usia, semakin ngerti tentang susahnya mencari duit, jadi lebih realistis aja gitu antara konsep sama kemungkinan modal yang dipakai saat nikah nanti. Kalau mau sederhana banget dan dibolehin sama Bapak Ibu, aku cuma pengen melangsungkan akad nikah di KUA biar gratis hahaha. Kan ngundang penghulu ke suatu tempat (di luar KUA) itu bayar. Selain alasan gratis, pengennya uang tabungan yang buat nikah itu bisa jadi modal untuk memulai bahtera rumah tangga. Kebutuhan tuh banyak banget deh di awal-awal nikah broooo (sok tau banget). Sebenarnya malah lebih pengen uangnya dibuat berangkat umroh sama pasangan biar bisa memanjatkan doa di sana bersama-sama, berdoa untuk bisa jadi jodoh dunia dan akhirat. Ya Allah, pemikiran aku Subhanallah ya :")

Kalau impian ku yang pertama itu sih posisinya di antara realistis dan idealis sih hahaha. Gimana sih aku nggak konsisten ya? Karena memang banyak banget yang harus dipertimbangkan, apalagi ada dua keluarga di situ. Ohiya satu lagi yang aku impikan adalah nikah dengan biaya sendiri, hasil tabungan aku dan (calon) suami. Aku maunya nggak pengen membebani orang tuaku dan orang tua pihak lelaki. Udah cukuplah mereka membiayai kami sejak kami kecil hingga kami bisa mandiri dapet penghasilan sendiri. Semoga calon pasangan aku punya pemikiran yang sama. Jadi kenapa aku belum pengen menikah di usia aku sekarang, karena emang belum punya modal buat nikah.

Nah jadi mempertimbangkan modal nikah yang sedikit itu jadinya pengen nikah di KUA aja hahaha. Cukuplah sederhana saja dengan mahar yang tidak memberatkan calon pasangan aku. Yang penting kan niat baik bisa dilaksanakan (Hayok nggak pengen nge-halalin aku segera nih, kan syaratnya nggak berat? Hahaha) Syukur-syukur memang modalnya cukup buat bonus umroh berdua hahaha teteeeeep. Tapi itupun kalau orang tua aku setuju (kalau Ibu sih seloooow banget orangnya, insha Allah dibolehin). Nah belum tentu juga Mas pasangan aku setuju, dan keluarganya juga belum tentu setuju. Karena biasanya kan masih ada omongan orang yang dijadikan pertimbangan-pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Tapi yaudah lupakan rencana setengah idealis-realistis itu. Ada satu konsep lagi yang pengen aku bahas sekarang. Konsep yang lumayan masuk akal. Kenapa aku bilang lumayan? Karena tetep ada bau-bau idealis juga nih hahaha. Karena wajar setiap perempuan pasti punya "weddind dream" ala mereka sendiri. Jelas, inti dari pernikahan impian aku adalah: dilaksanakan secara sederhana. Nggak pengen yang mewah nan glamor dengan undangan beribu-ribu orang. Oke mari kita bahas satu-persatu.

Pertama, pengen dilaksanakan satu hari aja. Jadi pagi akad nikah terus bisa berselang beberapa jam langsung resepsinya. Dan nggak perlu pakai adat-adat manapunlah, cukup sah di mata Allah. Kalau bisa di gedung yang sama biar hemat juga dan praktis. Pengen sih sebenernya punya acara di rumah aja. Tapi berhubung rumah yang sekarang itu kecil banget, kalau rumah yang lama masih bisa deh dilaksanakan di rumah. Jadi I have to spend much money for rent a place. Sebenernya sih udah ada bayangan tempat mana yang mau dijadikan tempat nikah di kota tempat aku tinggal ini. Ada dua sih, yang satu indoor dan satunya lagi ada konsep garden-nya gitu. Untuk kapasitasnya sih sama sebenernya, parkir dan akses sama. Karena berada di jalan yang sama juga. Nah tapi untuk masalah menu makan-nya sih lebih suka di tempat indoor itu. Kenapa kok bisa sampai tau tentang makanannya sih? Karena aku udah pernah iseng survey, hahaha. Kan berhubung 2 tempat itu memang nggak dikenai uang sewa gedung cuman makanannya harus dari yang disediakan pengelola tempat itu. Nah intinya sih cuma bayar makan doang. Oke masalah tempat udah sedikit bisa diselesaikan.

Untuk undangan. Dengan rendah hati aku minta maaf kalau nantinya ada pembaca sekaligus teman aku yang nggak dapet undangan. Karena aku cuma pengen mengundang sedikit orang aja. Aku nggak pengen suasana nikah aku very crowded. Aku pengen suasana yang khidmat dan menyenangkan. Orang-orang yang datang pun yang aku kenal banget. Bukan yang wajahnya asing buat aku. Aku kepikiran buat paling banyak udangan itu cukup 100 orang aja. Sedikit? Iya emang aku rasa itu udah lebih dari cukup kok, ada 100 orang di dalam suatu ruangan dengan waktu yang bersamaan. Kata orang hitungan untuk konsumsi adalah dua kali lipat dari undangan itu. Asumsinya, ada 2 orang yang berangkat mewakili 1 undangan. Nah kalau aku pengennya sekitar orang 100, berarti cukup nyebar ke 50 orang aja ya. Wah great idea! *trus kemudian gue dicibir* *pada ngomong nggak mungkinlah* *ngimpi lo* Hahahaha, namanya orang pasti punya keinginan sendiri-sendiri.

Untuk kostum (kok berasa mau ngelenong ya kalau kostum), oh well gaun pengantin. Wah aku udah nemu dong gaun pengantin impian aku. Lagi-lagi: simple! Aku pengen banget bikin alias jahit gaun pengantin sendiri, nggak pengen nyewa. Cukup satu aja deh. Akad sama resepsi pakai gaun yang sama. Nggak apa-apa kok! Cuma mungkin mau dibedakan bagian hijab-nya aja. Hijabnya aja bikin dua, gaunnya tetep satu. Make up juga kalau bisa yang senada ajalah biar ga ribet make up dari awal lagi. Apalagi kan cuma dibedain waktunya beberapa menit atau jam aja. Cukup satu gaun, lagian juga kalau undangan akad pengennya cuma keluarga dari Ibu Bapak sama teman yang deketnya kebangetan. Jadi yang lain pada nggak tahulah, tahupun juga nggak masalah. Sederhana banget ya pemikiranku hahaha. Kalau untuk pakaian pria-nya, aku cenderung pengen dia pakai pakaian ala-ala India gitu. Yang bajunya bisa sampai sedengkul gitu, ya gitulah susah dijelasin tapi pasti para pembaca ngerti kan yang aku maksud (harus ngerti ya, paksain ngerti aja deh, males jelasin detailnya hahaha). Tapi berarti harus cari calon suami yang tinggi ya biar nggak keliatan bantet kalau pakai baju itu. Untuk warnanya sendiri sih, cukup putih aja. Pengen warna pink gitu, karena aku maniak warna pink pastel gitu. Tapi aku mikir lagi, apa iya laki aku mau pakai pink. Apa aku tega mebiarkan calon pasangan aku pakai warna yang sangat identik dengan perempuan, nggak tega ah! Dan kesannya juga kurang gagah gitu kalau dia pakai pink (berasa punya cowok aja, sa! Hahaha). Jadi cukupkanlah dengan warna putih aja, terus biar kesan sakralnya dapet.

Nah yang agak sedikit menguras kantong sebenarnya adalah bagian dekorasi. Aku pengen dekorasi yang cantik (tapi catat bukan glamour berlebihan ya). Pengen bertebaran bunga asli di dekorasinya. Atau at least kalau emang mahal, ga mampu biayain bunga asli, ya cari imitasi yang mendekati nyata aja deh hahaha. Tapi pengen dekorasi yang cantik, apalagi kan buat latar foto dokumentasi yang mau dipamerkan (read: dipajang). Lagian aku juga menghilangkan bagian foto pre-wedding, karena juga nantinya useless deh jadinya. Alasan lain juga nggak enak foto nempel-nempel berdua karena belum sah juga, hemat pula karena nggak usah spending too much cost for prewedding session. Dan biasanya foto-foto prewed itu mau dipakai buat bahan undangan, lah undangan aku aja nggak pengen pakai foto loh hahaha. Undangan cukup yang simple, murah, tipis berkualitas, tapi design-nya eye catching gitu. Udah ada sih konsep design-nya di kepala. Lagian ngapain ngabisin biaya mahal buat undangan kalau ujung-ujungnya sih akan berakhir di tempat sampah juga. Aku mah ogah!

Ngomongin tentang make up pernikahan, maunya sih yang oke. Biar keliatan stunning gitu tampilannya. Biar kelihatan cakeeeeep bangeeeet mempelai pengantinnya (cewek dan cowoknya). Tapi dengan pilihan warna lipstik yang keren gilak, nggak mau yang warna plum, gelap, ataupun merah menyala. Cukup dengan warna nude-pink-peach yang meggelora aja hahaha bahasanya lebay demi apa ini mah. Dan juga warna foundation dan bedaknya pengen yang sesuai dengan warna kulit, jangan terlalu jauh deh. Karena pernah ngeliat make up temen kasihan jadi keliatan kucel gara-gara menurutku terlalu gelap pemilihan foundation dan bedaknya. Pengennya sih manggil MUA kece dari Jogja gitu, secara mungkin di kota aku belum ada yang sreg di hati. Tapi nggak tau ya beberapa tahun ke depan. Ohiya sorry dorry morry ya kemungkinan aku nggak menyebar kain seragam hahaha. Penghematan budget bok. Keluarga inti aja deh yang samaan, Bapak Ibu Mas Mbak Adik dari kedua belah pihak.

Nah untuk hiburannya, semoga nggak ada dangdut koplo di kondangan pernikahan aku *sambil getok-getok meja*. Semoga para tamu juga cukup membantu menyelenggarakan keinginan itu ya dengan tidak menyumbang lagu dangdut koplo hahaha. Karena suasana pernikahan aku ini aku indentikkan dengan suasana yang manis manja dan tenang, jadi pengennya sih dialunkan dengan lagu-lagu jazz & akustik gitu. Dialunkan lagu-lagu Maliq, Raisa, Tulus, Brian McKnight, bahkan ada lagu-lagu Islami gitu seperti lagunya Maher Zain. Aku berdoa sih bisa nemu band pengiring yang cucok dan ngerti dengan kemauanku. Ohiya semoga didukung dengan soundsystem yang jelas. Ohiya bocoran nih, aku udah mulai nyicil bikin daftar lagunya loh hahahaha kemudian gue dihina.

Ohiya yang masih jadi peer banget adalah isi acaranya itu. Kenapa jadi peer banget? Sebenarnya aku nggak pengen punya acara pernikahan yang sebatas dateng-makan-salaman-pulang. Aku pengen punya acara yang suasananya bisa lebih menghangatkan denga para tamu juga. Nah tapi belum nemu mau konsep acara yang seperti apa. Jadi pengennya tamu dateng bersamaan dan pulang juga bersamaan gitu setelah acara selesai secara paripurna, ya cukup 1-2 jam gitu. Biar aku juga cepetan istirahat, ngobrol lama sama pasangan hahaha. Ohiya karena pengalaman selama ini standing party itu agak sedikit ngerepotin. Karena cuma disediakan sedikit kursi, bahkan ada yang ngemper. Jadi pengennya disediakan kursi-meja yang sesuai dengan jumlah tamu. Ohiya ada yang kelupaan tentang souvenir, maunya yang murah tapi bermanfaat. Bermanfaat buat siapa? Buat gue, laki gue, keluarga gue, nenek moyang gue? Yaelaaaaah. Ya seenggaknya menurutku bermanfaat. Kalau sekarang sih kepikirannya pembatas buku wayang, goodie bag, centong (?), maunya sih lampu teplok ukuran kecil gitu. Kan lucu ya lampu teplok gitu tapi aku tau kekurangannya adalah harganya mahal, padahal kan maunya yang murah tapi fungsional. Terus abis ini ide aku dicuri orang hahaha ikhlas ikhlas aku deh, anggap aja ikhlas hahaha.

Nah itu sekelumit dari konsep pernikahan aku. Cukup segitu? Sebenernya sih masih ada beberapa, tapi kayaknya itu dulu ya secara luasnya. Kalau mau meniru, atau bahasa halusnya aku menginspirasi kalian ya silakan kalau mau diterapkan juga. Ya aku mikirnya berarti posting-an kali ini bermanfaat buat orang banyak, Aamiin.

Oke yang penting sebenernya di bagian yang pengen aku bagi ini. Bagian yang buat aku galau, ceileeeeh. Pernah nggak sih kalian sedikit kepikiran untuk berat dateng ke kondangan karena apa? Yup karena sumbangan. Oke kalau nggak mau dikatakan keberatan mungkin bisa disebut "mengeluh" harus keluar uang untuk menyumbang. Apalagi kalau lagi musim nikahan, bisa sehari dapet lebih dari satu undangan atau malah undangannya di luar kota. Mau nggak mau kan jadi sedikit berat apalagi kalau mikirin biaya kebutuhan sehari-hari aja udah banyak. Mau nyumbang dikit nggak enak, soalnya ini saudara atau teman dekat. Tapi mau nyumbang banyak juga lagi banyak kebutuhan. Nah untuk masalah itu, masalah yang aku rasakan juga. Aku pengen banget untuk nggak menerima sumbangan dalam bentuk uang. Karena biasanya kalau yang ngasih kado itu suka maksa harus nerima hahaha. Tapi nggak dikasih apapun aku mau kok. Udah dateng aja, aku udah sangat bersyukur. Tapi kembali lagi aku menikah bukan dengan diriku sendiri, ada pasangan aku dan keluarga yang perlu didengar juga pertimbangannya. Jadi nggak bisa dong memaksakan kehendak aku seenaknya begitu.

Karena sejatinya prinsip yang terngiang di benak aku adalah berita bahagia itu juga harus disebarkan juga aroma kebahagiaannya. Kalau untuk datang aja mengeluh masalah sumbangan, itu kan bukan suatu pertanda bahagia. Jadi nggak pengen membebani orang lain, cukup mereka merasakan kebahagiaan aku. Lagian menurut aku kalau kita melaksanakan acara bahagia berarti kan kita sudah mempunya rencana dan mempersiapkan segalanya. Jadi kenapa kita harus mengharap ada yang kembali ke kita? Kita harus tulus nan ikhlas. Kecuali kalau kabar duka, itu kan di luar dari rencana kita. Jadi wajar kalau kita menerima "sesuatu" yang bisa dipakai untuk meringankan beban kita. Waaah gilak kayaknya cuma bagian ini aja yang berbobot ya hahaha.

Jadi kenapa aku pengen acara pernikahan yang sederhana dengan undangan yang sedikit? Jawabannya dua, pertama karena pengen pakai tabungan aku dan (calon) suami aja dan yang kedua nggak pengen menerima sumbangan. Gilak udah cerita panjang bener, rangkumannya cuma sekelumit ini ya. Tapi terimakasihlah pembaca udah mau baca. Aku juga nggak yakin ada yang baca hahaha. Atau bahkan calon aku baca posting-an ini hahaha. Atau mas-mas incaran aku baca, atau yang menyebut aku dalam doanya juga baca, aku sih ingin mengaminkan aja biar dia juga mulai sedikit mengerti keinginan aku hahaha.

Yang perlu digarisbawahi adalah ini semua impian aku semata, belum tentu semua bisa direalisasikan dengan baik. Jadi jikalau nanti di hari itu ternyata tidak sama dengan apa yang aku harapkan, tolong maafkan aku. Karena semua sepenuhnya bukan kuasa aku hahaha.

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Operasi Amandel (Tonsilitis)

Ada orang yang bilang kalau mau sakit yang enak yaudah sakit amandel aja, abis operasi bisa enak makan es krim yang banyak. Nah awalnya jauh sebelum detik-detik operasi amandel juga kepikiran begitu. Wah asyik dong bisa makan es krim yang banyak. Saya senang banget makan es krim karena saya tau saya saat itu nggak bisa bebas makan es krim. Kalau kebanyakan makan minum yang dingin begitu biasanya langsung demam. Tapi setelah saya menjalani operasi tonsilitis alias amandel, wah buang-buang jauh deh pemikiran abis operasi enak bisa makan es krim. Karena apa? Boro-boro makan es krim yang lembut itu enak, mau nelan air liur aja sakit coooy. Jadi sekarang kalau ada yang bilang sakit amandel itu enak, saya bakalan nyinyir. Iya dia belum ngerasain, lah saya yang ngerasain, yang tahu sakitnya kayak apa hahaha. Oke kali ini mau bagi-bagi cerita tentang pengalaman operasi amandel yang lalu. Tapi kayaknya udah basi banget ya? Secara operasinya udah bulan Agustus lalu, tapi karena udah janji ya

Ber-DIALOOG bersama Teman Hidup Traveloka!

    Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan, tanpa disangka-sangka terjadi saat di masa lampau. Masih terekam jelas kondisi awal Covid-19 menyerbu dunia, membuat kehidupan seolah-olah lumpuh. Kondisi yang membuat orang-orang untuk mau - nggak mau lebih banyak bertahan dan tinggal di rumah atau di suatu tempat saja dengan membatasi mobilitas.      Kondisi tersebut tanpa disadari membuat tren staycation semakin meningkat di masa seperti ini. Staycation berasal dari penggabungan dua kata, stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut Cambridge Dictionary , staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau di dekat rumah tanpa pergi atau melakukan perjalanan ke tempat lain.      Staycation biasanya dilakukan dengan menikmati waktu liburan dengan menginap di hotel berbintang yang kondisinya dianggap lebih nyaman daripada di rumah, biasanya di hotel dengan minimal bintang empat atau lima. Cara ini dianggap ampuh untuk menghilangkan stress atau penat dari rutinitas setiap hari deng

Nasihat Papa tentang Om Thomas

Kata Papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli. Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik. Anak-anakku jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan. Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan. Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga. Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan. Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang, yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan. Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. Percayalah, Dan jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya. Tere Liye (dalam "Negeri di Ujung Tanduk")