Pria Mapan

Berawal dari temanku yang baca tentang postingan salah satu akun yang intinya, salut kepada wanita yang tidak menunggu sang pria menjadi mapan terlebih dahulu.

Lalu, aku dan teman-temanku nggak seutuhnya menyetujuinya. Menurutku, itu sih kondisional. Mungkin untuk beberapa wanita yang dengan kondisi berbeda.

Aku memposisikan sebagai diri sendiri saja, tentu membutuhkan lelaki yang memang sudah memiliki pendapatan atau pekerjaan tiap bulannya. Hal tersebut nggak aku pungkiri. Kadang aku sempat terpikirkan, nanti jodohku kerjanya apa ya hahaha. Bahkan sekarang pun kalau mau dekat sama seorang lelaki, pekerjaannya pun menjadi salah satu pertimbangan. Kenapa begitu?

Aku bekerja di salah satu instansi dengan pendapatan per bulan bisa dibilang baik, alhamdulillah lumayan besar mungkin jika dibandingkan beberapa teman angkatan yang lain. Walaupun memang jumlahnya naik turun, karena sistem penggajian seperti itu tergantung kinerja cabang. Dengan pendapatan per bulan yang aku miliki, alhamdulillah beberapa keinginanku bisa terwujud. Atau ya bisalah makan enak terus hahaha, ini salah satu yang bikin aku gendut. Bebas beli make up, baju, tas, dan sepatu. Jadi, terkadang muncul ketakutan kalau nanti menikah, apakah masih bisa membeli barang yang dipengenin ya? Karena masih ada kebutuhan lain untuk rumah tangga yang harus dipenuhi terlebih dahulu, pendapatan pun harus dibagi untuk hidup bersama. Jadi dengan alasan itu tentu aku ingin menikah dengan lelaki yang sudah bekerja dan memiliki pendapatan.

Takutnya kalau sang lelaki ga memiliki pekerjaan itu menjadi permasalahan yang akan muncul dalam pernikahan tsb. Jujur, lelaki punya gengsi yang tinggi kan kalau mau dibandingkan dengan wanita? Jadi aku ingin menghindari konflik tsb, bahkan ada yang terkadang perbedaan pendapatan pun bisa jadi buah simalakama dalam jalinan pernikahan. Pendapatan perempuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lelaki, bisa menimbulkan konflik. Nah itu salah satu pertinbanganku dalam memilih lelaki. Siapa yang nggak pengen sang suami memiliki pendapatan yang lebih tinggi kan? Tapi kalau untuk hal kedua, mungkin masih bisa dicari jalan tengah.

Jujur, aku tentu akan bahagia jika tahu dengan kerja keras sang lelaki bisa mebuatnya telah memiliki kendaraan roda empat dan rumah. Di awal pernikahan nggak perlu bingung mau tinggal dimana atau nyari kontrakan. Walau sebenernya akan timbul masalah, letak rumahnya yang mungkin agak jauh dari kantor. Dan kalau sang lelaki sudah memiliki rumah pun, membuat kita nggak perlu menumpang di rumah mertua mungkin, karena kita juga dianjurkan untuk lebih mandiri.

Dan sang lelaki pun pastinya akan memiliki ego yang tinggi yang bisa menempatkan dirinya di posisi seperti apa. Dengan meminta restu dari orang tua perempuan, itu berarti dia menyanggupi untuk menghidupi sang perempuan tersebut dengan baik. Minimal apa yang bisa diberikan oleh orang tuanya, itu sih sebenernya kondisi ideal yang seharusnya terjadi. Tapi memang pada kenyataannya tidak semua begitu. Atau sang lelaki bisa menghidupi istrinya dengan layak seperti sang perempuan yang sudah mandiri memiliki pendapatan.

Jadi sebenernya, dengan keadaan sang lelaki yang lebih baik membuat harga diri dan derajat sang lelaki lebih baik dalam pandangan kami (kaum wanita). Oke mungkin ini hanya pemikiran segelintir wanita yang acap kali disebut matrealistis. Tapi sebenernya hal tersebut menjado realistis. Aku tau betapa melelahkannya bekerja, susah untuk mendapatkan rupiah kehidupan. Nah hal tersebut menjadi penghargaan bagi semua pihak, bukan hanya untuk si lelaki tapi juga oleh keluarga.

Sebelum mengakhiri sudut pandang ini, perlu dijelaskan bahwa kriteria pria tampan dalam benak banyak pihak pasti relatif berbeda. Namun untuk aku sendiri, sebenarnya bukan memilih dengan pria mapan untuk menjadi pasangan. Tapi seenggaknya, pria tersebut sudah punya modal yang baik untuk bisa hidip bersama. Aku akan lebih senang jika sang lelaki sudah bisa memiliki fasilitas kehidupan yang lebih baik untuk bahagia bersama. Namun jikalau dia nggak memilikinya, seenggaknya dia memiliki pekerjaan yang baik yang tiap bulannya mampu menghidupi keluarga aku dan dia. Biar kita berjuang bersama untuk meraihnya, insyaAllah aku juga sanggup.

Comments

Popular Posts